lobster air tawar

Untuk membudidayakan lobster air tawar sangat mudah,dilihat dari badannya yang kokoh dan tahan terhadap penyakit,dan tahan segala cuaca.

Lobster Air Tawar (LAT) atau Freshwater Crayfish

Lobster Air Tawar (LAT) atau Freshwater Crayfish merupakan binatang air yang cukup mudah untuk dibudidayakan atau di ternakan. Harga jual nya yang cukup fantastis, sekitar 150-250 ribu rupiah /kg, membuat budidaya lobster air tawar menjanjikan keuntungan bila dilakukan dengan Cara Budidaya Lobster air tawar yang benar dan baik. Habitat asli Lobster Air Tawar adalah di sungai dan di rawa-rawa serta danau.

Jurus Sukses Budi Daya Lobster Air Tawar

Bisnis Lobster Air Tawar Sangat Prospektif. Handphone di saku Mualim mendering kencang. Dengan tangan yang masih basah.

Bisnis Lobster Air Tawar

lobster air tawar dikenal sebagai hewan yang suka berkelahi setiap kali bertemu satu sama lain sehingga peternak harus jeli dan hati-hati mengatur kolam pemeliharaannya. Setelah mengamati beberapa kali konflik tersebut, para peneliti memisahkan lobster-lobster yang kalah.

Pada periode awal pengeraman

Pada periode awal pengeraman, induk betina yang sedang gendong telur akan melipatkan ekornya dengan erat ke bagian dalam sebagai bentuk perlindungan terhadap telur – telurnya.

Wednesday, August 10, 2011

Waktu yang Tepat untuk Memberikan Lobster / Pakan Red Claw

Penelitian telah menunjukkan bahwa waktu Red Claw yang paling aktif di malam hari antara jam 6 sore dan tengah malam. Pada saat ini lah waktu terbaik untuk member makan. Makanan untuk Indukan sangat lah
penting. Induk harus diberi pakan yang lengkap (dengan suplemen vitamin dan mineral). Pelet Tenggelam atau pakan udang yg di berikan setidaknya pelet yang mengandung 28 persen protein, dengan takaran 3 persen dari berat badan per hari. Beberapa hatchery/farm pembenihan meramu sendiri pakan dengan makanan segar. Pakan buatan termasuk sayuran dicampur beku, benih burung, dan hati sapi cincang atau hati. Pakan yg di berikan harus sesuai dengan takaran, jangan sampai berlebihan, terutama dengan pakan segar, karena dapat mengurangi kualitas air.

Monday, August 8, 2011

Cara Makan dan Kebiasaan Makan Lobster Air Tawar ( Omnivora, Bottom Fedder, Nocturnal Animal dan Kanibal )




Omnivora, Bottom Fedder, Nocturnal Animal dan Kanibal
Dilihat dari kebiasaan makanan (food habit), hewan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan pemakan tumbuhan (herbivora), ikan pemakan hewan (carnivora) dan ikan pemakan segala (omnivora). Ikan mas termasuk herbivora atau ikan yang sepanjang hidupnya pemakan tumbuhan.

Menurut Rita Suryani (2005) lobster air tawar tergolong karnivora, yaitu pemakan segala, baik tumbuhan maupun hewan. Lobster air tawar dapat memakan bahan hewani, seperti cacing sutera, cacing air, cacing tanah dan zooplankton. Sementara bahan nabati yang sangat disukai adalah tanaman air, seperti lumut, akar
salada air dan tanaman air lainnya. Menurut Wiyanto dan Hartono (2003) selain pakan alami segar, lobster juga menyukai pakan buatan, terutama pelet. Sedangkan menurut Iskandar (2003), selain lumut dan cacing, lobster juga suka dengan biji-bijian, ubi-ubian dan bangkai binatang.

Sebelum memangsa makanan, lobster mendeteksi makanan itu dengan antena pada kepala, kemudian jika makanan itu sudah sesuai dengan keinginan, mangsa akan ditangkap dengan capitnya yang kuat dan kokoh. Setelah itu, mangsa diserahkan pada kaki jalan pertama, yang berfungsi sebagai tangan, dan siap dikonsumsi. Karena pelet khusus lobster jarang, maka pelet lain juga bisa diberikan, tapi kandungan protein pakan tersebut harus berkisar antara 30 – 40 persen. Menurut Iskandar (2003), jenis pelet komersil untuk lobster air tawar adalah pelet untuk windu dan udang galah. Dosis pakan yang diberikan sebanyak 3 persen/hari dari bobot tubuh.

Dilihat dari kebiasaan makan, ikan dibagi menjadi tiga golongan, yaitu floating feeder, midle feeder dan bottom feeder. Ikan nila termasuk floating feeder, karena terbiasa makan di permukaan. Tambakan termasuk midle feeder, karena terbiasa makan di tengah perairan. Sedangkan lobster air tawar termasuk bottom feeder, yaitu pemakan dasar.

Selain bottom feeder, lobster juga fasif dalam mencari makan, dan lebih banyak dilakukan pada malam hari, atau dikenal dengan sebutan nocturnal animal. Karena sifat itu, maka pemberian pakan untuk lobster harus lebih banyak untuk malam hari.

satu lagi, lobster air tawar juga termasuk hewan yg mau memangsa sesamanya, alias Kanibal :-)

Sumber : http://usniarie.blogspot.com/2008/04/klasifikasi-dan-morfologi_26.html

Hati-hati WSSV Dapat Menyerang Lobster Air Tawar





Clarkii yg terkena WSSV (terdapat lapisan putih/
white spot pada  sekujur tubuhnya)
Setelah Sukses menyerang Udang Vanamei dan jenis-jenis udang lainnya, WSSV (White Spot Syndrome Virus) juga dapat mengancam Lobster Air Tawar


Di Indonesia, penyakit WSSV mewabah sejak tahun 1995.  WSSV menyerang udang  pada semua stadia baik benur maupun udang dewasa. WSSV  dapat menyebabkan kematian  pada udang hingga 100% selama 3- 10 hari sejak gejala klinis muncul.  Namun, di Indonesia  penelitian mengenai penyakit WSSV belum banyak dilakukan baik dalam aspek penularan maupun pencegahannya (Alifuddin et al., 2003).  




Apalagi setelah di temukannya WSSV pada Lobster Air Tawar di negara bagian Louisiana di Amerika pada tahun 2007,  WSSV sangat mematikan,  hal ini diketahui dari beberapa penelitian yang menggunakan lobster ait tawar jenis  Cherax quadricarinatus / Red Claw (Djauhari, 2005), jenis Procambarus Clarkii (Jha 2006; Wang et al.; 1998) dan jenis Pacifastus  leniusculus (Jiravanichpaisal et al., 2001) dapat terinfeksi WSSV melalui oral, perendaman  maupun injeksi.  Diketahui pada penelitian dengan virus WSSV terhadap lobster ait tawar jenis  Pacifastus leniusculus menghasilkan kematian total pada hari ke-10 pasca infeksi  (Jiravanichpaisal et al., 2001) sedang lobster jenis Procambarus clarkii mencapai 81 %  dalam  18 hari setelah mengkonsumsi pakan udang windu (Penaeus monodon) yang positif  WSSV  (Wang  et al., 1998).  Virus WSSV ini mampu menyebar melalui kanibalisme antar udang  maupun melalui air yang terkontaminasi (Chang et al., 1996)

Himbauan kepada para peternak, berhati-hati jika menggunakan pakan berbasis udang segar pada Lobster Air Tawar Anda, rebus terlebih dahulu pakan berbasis udang yg akan di berikan, lebih baik repot daripada rugi :D

Saturday, August 6, 2011

Buku Budidaya Lobster Air Tawar

Berikut salah satu buku yg dapat dijadikan acuan bagi para peternak

dari Perum Perhutani Jember

http://kphjember.com/files/CARA%20BUDIDAYA%20LOBSTER.pdf

Semoga Membantu

Friday, August 5, 2011

Perbandingan Kandungan Kolesterol Lobster Air Tawar,Lobster Laut dengan Makanan Lainnya

 

Perbandingannya adalah sebagai berikut :

Kandungan Kolesterol Lobster Air Tawar adalah 96 mg
Kandungan Kolesterol Lobster Laut  adalah 125 mg

Sementara perbandingan dengan makanan lainnya adalah sebagai berikut :


Daging asap
98
Sekali-sekali
Iga sapi
100
Sekali-sekali
Iga babi
105
Haram
Daging sapi
105
Sekali-sekali
Burung dara
110
Sekali-sekali
Ikan bawal
120
Sekali-sekali
Daging sapi berlemak
125
Sekali-sekali
Lemak sapi
130
Sekali-sekali
Lemak kambing
130
Sekali-sekali
Daging babi berlemak
130
Haram
Keju
140
Hati-hati
Sosis daging
150
Hati-hati
Kepiting
150
Hati-hati
Udang
160
Hati-hati
Kerang/siput
160
Hati-hati
Belut
185
Hati-hati
Santan Kelapa
185
Hati-hati
Lemak babi
200
Haram
Susu sapi
250
Berbahaya
Susu sapi krim
280
Berbahaya
Coklat (cacao)
290
Berbahaya
Mentega/margarine
300
Berbahaya
Jeroan sapi
380
Berbahaya
Jeroan babi
420
Haram
Kerang putih/remis/tiram
450
Berbahaya
Telur ayam
500
Berbahaya
Jeroan kambing
610
Berbahaya
Cumi-cumi
1.170
Dilarang
Kuning telur ayam
2.000
Dilarang
Otak sapi
2.300
Dilarang
Otak babi
3.100
Haram
Telur burung puyuh
3.640
Dilarang
Sumber: Singapore General Hospital

Seharusnya menurut tabel di Atas, Lobster Air Tawar lebih "sehat" :-)
ya setidaknya juga harus makan makanan berserat, seperti sayuran, biji-bijian dan rajin ber-olahraga :-)

Perawatan Indukan Gendong Telor pada Lobster Air Tawar

Lobster air tawar betina ( indukan ) yang sedang membawa telur biasa disebut dengan istilah induk gendong telur.

Pada periode awal pengeraman, induk betina yang sedang gendong telur akan melipatkan ekornya dengan erat ke bagian dalam sebagai bentuk perlindungan terhadap telur – telurnya.

Telur ini berbentuk oval dan berdiameter 1/10 inci dan akan dierami indukan selama kurun waktu 4 – 6 minggu.


Masa ini disebut dengan masa inkubasi. Apabila suhu air dapat dipertahankan dikisaran 28 derajat Celcius, maka masa inkubasi akan berlangsung lebih cepat, yakni selama 30 – 35 hari. Selama dalam masa pengeraman, kualitas air dan oksigen terlarut harus selalu diperhatikan dan dijaga.




Red Claw Gendong Telor (Fase ke 2)
Pengecekan terhadap induk betina yang berstatus gendong telur baru aman untuk dilakukan dalam tempo 2 minggu setelah proses pemijahan terjadi. Setelah itu, induk gendong telur harus segera dipindahkan ke kolam / akuairum pengeraman.

Pemindahan induk gendong telur harus dilakukan dengan sangat hati – hati untuk menghindari rontoknya telur akibat pergerakan ( berontak ) induk. Selama dalam masa pengeraman, telur – telur lobster air tawar akan berkembang melalui 5 fase, yaitu :


Fase 1 ( hari ke 1 – 3 ), telur berwarna keabuan.
Fase 2 ( hari ke 12 – 14 ), telur berwarna kecoklatan, coklat muda.
Fase 3 ( hari ke 20 – 23 ), menginjak fase eye spot ( titik hitam pada telur ).
Fase 4 ( hari ke 28 – 35 ), telur berwarna oranye kemerahan; organ tubuh sudah terbentuk lengkap.
Fase 5, telur telah berubah menjadi burayak yang sudah siap turun gendong ( lepas dari induknya ).

 
Menempatkan induk betina yang sedang gendong telur dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu :





Fase ke 4
Pengeraman tunggal, yaitu dengan cara menempatkan 1 ekor induk gendong telur ke dalam 1 kolam / akuarium.

Pengeraman massal, yaitu dengan cara menempatkan beberapa ekor induk gendong telur ke dalam 1 kolam / akuarium. Beberapa induk gendong telur yang ditempatkan secara bersama – sam ke dalam kolam / akuarium harus mempunyai umur telur yang sama ( minimal berselisih 10 hari )

Agar lebih terjamin penetasan telor dan memudahkan perawatan, sebaiknya indukan gendong telor di pisahkan dari kawanannya (di karantina)

Sebelum di karantina pastikan lama pengeraman induk sudah memasuki Fase ke 2, cirinya telor berwarna kecoklatan induk betina sudah tidak ditunggui/dijaga oleh si induk jantannya.




Gendong Telor Fase ke 5


Cara memindahkan yg aman bisa sekalian diangkat dengan pipa sembunyiannya atau menggunakan alat serokan, lakukan dengan hati2 jangan sampai indukan betina terkejut sehingga mengibaskan ekornya, akibat dari pengibasan ekor tersebut telor yg di gendong akan rontok. Lokasi pemindahan juga jangan terlalu jauh.

Jaga kepadatan media karantina, misal satu wadah cuma diisi satu atau beberapa induk betina (tergantung luas media), resiko jika terlalu padat adalah antar indukan sering berganti atau rebutan utk masuk ke lubang sembunyian yg sama sehingga telur dapat rontok karena tercapit oleh indukan yg lain. Sebagai perbandingan, aquarium ukuran 50 x 50 maximum di isi oleh 2 ekor indukan yg sedang gendong telor.

Jumlah paralon, tempat sembunyian, di bisakan lebih banyak daripada jumlah indukan gendong telor pada media tersebut
Ketinggian air pada media karantina cukup  antara 5-10 centimeter, yg terpenting induk terendam & gunakan aerator/pump udara secukupnya. fungsi dari penggunaan air yg dangkal utk mengurangi keaktifan gerak LATnya saat dipindahkan sehingga LAT lebih banyak diam di lubang sembunyian & jika LATnya kekurangan oksigen dia dapat berdiri di pinggir media utk menyembulkan kepalanya.

Jaga kebersihan media terutama dibagian dasar media. resiko dari kotoran2 & sisa pakan yg mengendap di dasar media adalah tumbuhnya parasit & jamur yg dpt menjalar ke LAT dan telur yg digendongnya yg berimbas pada pembusukan telur.

Indukan di pisah dari burayak (anaknya) setelah melewati Fase ke 5, biarkan seluruh burayak turun dengan sendirinya dari tubuh induknya. Indukan betina tidak akan memakan anaknya selama makanan di tempat pemeliharaan cukup.

Dari berbagai sumber, antara lain :   
http://www.infoagrobisnis.com/2009/05/proses-pengeraman-pada-lobster-air.html
http://www.facebook.com/note.php?created&&note_id=10150136172222518

Kalium Permanganat (PK) sebagai Pengobatan pada Ikan dan Lobster Air Tawar


Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan infestasi bakteri terutama pada ikan-ikan dalam kolam. Meskipun demikian untuk pengobatan ikan-ikan akuarium tidak sepenuhnya dianjurkan karena diketahui banyak spesies ikan hias yang sensitif terhadap bahan kimia ini.Bahan ini diketahui efektif mencegah flukes, Tricodina, ulcer  dan infeksi jamur. Meskipun demikian penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati karena tingkat keracunannya hanya sedikit lebih tinggi saja dari tingkat terapinya. Oleh karena itu harus dilakukan dengan dosis yang tepat.


Tingkat keracunan PK secara umum akan meningkat pada lingkungan akuarium yang alkalin. Potasium permanganat tersedia sebagai serbuk maupun larutan berwarna violet. Kalium permanganat (KMnO4) merupakan alkali kaustik yang akan tersdisosiasi dalam air membentuk ion permanganat (MnO4) dan juga mangan oksida (MnO2) bersamaan dengan terbentuknya molekul oksigen elemental. Oleh karena itu efek utama bahan ini adalah sebagai oksidator. Dilaporkan bahwa permanganat merupakan bahan aktif beracun yang mampu membunuh berbagai parasit dengan merusak dinding-dinding sel mereka melalui prosesoksidasi. Beberapa literatur menunjukkan bahwa mangan oksida membentuk kompleks protein pada permukaan epithelium sehingga menyebabkan warna coklat pada ikan dan sirip juga membentuk kompleks protein pada struktur pernapasan parasit ikan yang akhirnya menyebabkan mereka mati. Berbagai review dalam berbagai literatur menunjukkan bahwa kalium permangat dapat membunuh Saprolegnia, Costia, Chilodinella, Ich, Trichodina, Gyrodactylus dan Dactylogyrus, Argulus, Piscicola, Lernea, Columnaris dan bakteri lainnya seperti Edwardsiella, Aeromonas, Pseudomonas, plus Algae dan Ambiphrya.

Mekipun demikian Argulus, Lernea and Piscicola diketahui hanya akan respon apabila PK digunakan dalam perendaman (dengan dosis: 10-25 ppm selama 90 menit). Begitu pula dengan Costia dan Chilodinella, dilaporkan resiten terhadap PK, kecuali apabila PK digunakan sebagai terapi perendaman.Kalium permangat sebagai terapi perendaman bersifat sangat kaustik, hal ini dapat menyebabkan penggumpalan nekrosis (ditandai dengan memutihnya jaringan yang mati) pada sirip. Kerusakan insang juga dapat terjadi, sehingga dapat menyebabkan kematian pada ikan beberapa minggu kemudian setelah dilakukan terapi perendaman. Ikan mas koki, diketahui lebih sensitif terhadap PK sebagai terapi perendaman dibandingkan dengan spesies lainnya. Dengan alasan-alasan seperti itu, maka sering tidak direkomendasikan untuk menggunakan PK sebagai terapi perendaman, dan juga karena efek terapeutiknya tidak lebih baik dibandingakan dengan terapi terus-menerus dengan dosis 2 - 4 ppm. Kalium permanganat sangat efektif dalam menghilangkan Flukes Gyrodactylus dan Dactylus dapat hilang setelah 8 jam perlakuan dengan dosis 3 ppm pada suatu sistem tertutup. Penularan kembali masih dapat terjadi, oleh karena itu, direkomendasikan untuk mengulang kembali perlakuan 2-3 hari kemudian dengan dosis 2 ppm. Beberapa khasiat lain dari Kalium permangat yang dilaporkan diantaranya adalah:sebagai disinfektan luka, dapat mengurangi aeromanoas (hingga 99%) dan bakteri gram negatif lainnya, dapat membunuh Saprolegnia yang umum dijumpai sebagai infeksi sekunder pada Ulcer , dan tentu saja sebagai oksidator yang akan mengkosidasi bahan organik.Beberapa aplikasi lain yang biasa dilakukan oleh para hobiis dan akuakulturis adalah menggunakannya dalam proses transportasi ikan. Konsentrasi kurang dari 2 ppm diketahui dapat mengurangi resiko infeksi Columnaris dan infeksi bakteri lainnya, serta membatasi dan menghentikan parasit yang sering menyertai ikan dalam proses transportasi. Begitu juga transportasi burayak dilaporkan aman dengan perlakuan kalium permanganat dibawah 2 ppm.Meskipun demikian untuk burayak dalam kolam tidak dianjurkan untuk menggunakan perlakuan kalium permanganat. Hal ini tidak ada hubungannya dengan keracunan yang mungkin terjadi pada burayak , tetapi efeknya justru terhadap kemungkinan berkurangnya fitoplankton dan makrofit yang dapat menyebabkan burayak menderita kelaparan.

Untuk pengobatan pada Lobster Air Tawar, tidak di sarankan penggunaan pada Burayak dan bibit Lobster Air Tawar kurang dari 2 Inchi, penggunaan pada Bibit Lobster Air Tawar dan Lobster Air Tawar Dewasa hanya boleh dengan dosis kurang dari 2ppm.