lobster air tawar

Untuk membudidayakan lobster air tawar sangat mudah,dilihat dari badannya yang kokoh dan tahan terhadap penyakit,dan tahan segala cuaca.

Lobster Air Tawar (LAT) atau Freshwater Crayfish

Lobster Air Tawar (LAT) atau Freshwater Crayfish merupakan binatang air yang cukup mudah untuk dibudidayakan atau di ternakan. Harga jual nya yang cukup fantastis, sekitar 150-250 ribu rupiah /kg, membuat budidaya lobster air tawar menjanjikan keuntungan bila dilakukan dengan Cara Budidaya Lobster air tawar yang benar dan baik. Habitat asli Lobster Air Tawar adalah di sungai dan di rawa-rawa serta danau.

Jurus Sukses Budi Daya Lobster Air Tawar

Bisnis Lobster Air Tawar Sangat Prospektif. Handphone di saku Mualim mendering kencang. Dengan tangan yang masih basah.

Bisnis Lobster Air Tawar

lobster air tawar dikenal sebagai hewan yang suka berkelahi setiap kali bertemu satu sama lain sehingga peternak harus jeli dan hati-hati mengatur kolam pemeliharaannya. Setelah mengamati beberapa kali konflik tersebut, para peneliti memisahkan lobster-lobster yang kalah.

Pada periode awal pengeraman

Pada periode awal pengeraman, induk betina yang sedang gendong telur akan melipatkan ekornya dengan erat ke bagian dalam sebagai bentuk perlindungan terhadap telur – telurnya.

Tuesday, August 2, 2011

Masakan Amerika / Lousiana : Lobster Air Tawar : Gumbo / Soup Gumbo

Gumbo / Soup Gumbo

Masakan dari Amerika Serikat yg Berasal dari kota Loisiana yg berbahan dasar Lobster Air Tawar / Crawfish / Crayfish adalah Gumbo, masakan ini perpaduan antara Masakan Spanyol, Afrika, Itali, Prancis dan Indian Amrerika

Gumbo adalah sejenis sup atau rebusan yang berasal dari Louisiana. Makanan ini dapat ditemukan ini sepanjang pantai teluk Amerika Serikat sampai ke Amerika Serikat bagian Selatan. Makanan ini terdiri dari kuah, daging/kerang/lobster air tawar/crawfish/crayfish, pengental, dan sayur-sayuran holy trinity yaitu seledri, paprika dan bawang. Sup ini biasanya disajikan dengan nasi. Pengaruh Perancis tampak dari penggunaan roux dan krim. Tradisi Hispanik terlihat dari penggunaan lada, dan rempah-rempah.

Representasi pada gumbo adalah variasinya juga beragam menurut resep imigran yang membuatnya. Jika dengan resep Perancis dasarnya roux, pengaruh Spanyol terlihat dari penggunaan trinity, ekra mewakili Afrika, sosis dan daging babi dipengaruhi resep Jerman dan ada tomat atau herba jika diracik oleh keturunan Italia.

 sumber beberapa kutipan dan wikipedia

Resep Lengkap Gumbo Crawfish dapat di lihat di Sini

Gumbo Crayfish / Crawfish Receipe

Monday, August 1, 2011

Resep Lobster Air Tawar Panggang

Lobster Air Tawar Panggang

Bahan :

    1 kilogram Lobster Air Tawar
    2 buah jeruk nipis
    2 siung bawang putih

    3 siung bawang merah
    2 sendok makan mentega
    4 sendok makan minyak
    garam, cuka secukupnya

Cara membuat :

    Bersihkan lobster kemudian masukkan jeruk nipis, garam dan cuka.
    Diamkan sejenak hingga bumbu meresap ke lobster air tawar kemudian angkat dan tiriskan.
    Haluskan Bawang merah dan bawang putih
    Beri sedikit minyak kemudian rebus lobster air tawar hingga keluar aromanya.
    Aduk mentega kemudian campur rata dengan lobster dan biarkan hingga meresap.
    Panggang diatas api langsung.
    hidangkan selagi panas, porsi untuk 3 - 4 orang

Pengaruh Salinitas terhadap Perkembangan Lobster Air Tawar (LAT)



Beberapa waktu yg lalu ada yg menanyakan, apakah Lobster Air Tawar bisa di kembangbiakkan di Air Payau, karena umumnya jenis udang-udangan lainnya mempunyai range yg panjang untuk salinitas, air payau sendiri standartnya mempunyai salinitas sebanyak 0,5 ppt sampai dengan 17 ppt, apakah Lobster Air Tawar dapat berkembang biak dengan salinitas setingkat Air Payau ? nah untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut kami kutip hasil penelitian di Universitas Negeri Malang



KARRIENT, KIKI (2007) PENGARUH PERBEDAAN SALINITAS TERHADAP SINTASAN DAN PERTUMBUHAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus). Undergraduate thesis, University of Muhammadiyah Malang
Cherax Quadricarinatus / Red Claw
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2007 sampai tanggal 31 Januari 2007 yang bertempat di Laboratorium Indoor Jurusan Perikanan Fakultas Peternakan-Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan salinitas terhadap sintasan dan pertumbuhan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) serta untuk mengetahui tingkat salinitas yang dapat memberikan sintasan dan pertumbuhan terbaik pada lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah lobster air tawar ukuran 1,5 inchi (umur 2 bulan) sebanyak 90 ekor, air tawar dan air laut serta pakan pelet tipe tenggelam. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium yang masing-masing berisi air media sebanyak 12 liter sebanyak 15 buah, peralatan aerasi, alat untuk mengamati pertumbuhan, dan alat pengukur kualitas air. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan cara melakukan serangkaian percobaan untuk melihat hasil. Sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian yang didapat adalah perbedaan salinitas berpengaruh sangat nyata terhadap sintasan dan pertumbuhan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Nilai sintasan yang tertinggi terjadi pada perlakuan A sebesar 77,78 %, kemudian diikuti oleh perlakuan B, C, D, dan E masing-masing 61,11 %, 55,56 %, 27,78 %, dan 5,56 %. Sedangkan untuk pertumbuhan tertinggi yaitu perlakuan A sebesar 0,517, kemudian diikuti oleh perlakuan B, C, D, dan E masing-masing 0,450, 0,433, 0,257, dan 0,063. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan salinitas berpengaruh sangat nyata terhadap sintasan dan pertumbuhan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Perlakuan yang terbaik untuk sintasan dan pertumbuhan adalah perlakuan A (3 ppt). hasil pengukuran kualitas air selama penelitian yaitu oksigen terlarut 6,04 – 6,07, suhu 23,37 – 23,95 oC, dan pH 6,99 – 7,01. Kisaran kualitas air selama penelitian sangat layak untuk sintasan dan pertumbuhan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dapat disarankan bahwa untuk memperoleh sintasan dan pertumbuhan yang terbaik pada usaha budidaya lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) disarankan tingkat salinitas media pemeliharaannya tidak lebih dari 3 ppt.

sebenarnya sih gak liat hasil penelitian juga udah terjawab :-)
dari namanya juga Lobster Air Tawar, n'tar kalo di pelihara di salinitas tinggi jadi Lobster Air Payau Dong heheheee











Cara Ampuh Menilai Layak Tidaknya Usaha Perikanan / Lobster Air Tawar

Sebelum kita memulai usaha perikatan/peternakan Losbter Air Tawar, ada baiknya kita mengkaji terlebih dahulu untung rugi usaha tersebut, kecuali anda ingin memulainya sebagai hobiist, karena mungkin anda tidak terlalu memikirkan profit yg di dapat, di sisi lain anda mungkin akan mendapat keuntungan tersendiri, kepuasan batin misalnya heheee :-)

Usaha perikanan yang akan ditekuni oleh para calon pelaku usaha haruslah dapat menghasilkan keuntungan yang selalu meningkat dan berkelanjutan.

Nah, untuk mengetahui layak atau tidaknya sebuah usaha perikanan untuk dijalankan, Anda dapat melakukan sebuah tindakan yang biasa disebut dengan analisa usaha perikanan.

Analisa usaha bisa diartikan sebagai cara untuk mengetahui tingkat kelayakan sebuah jenis usaha.

Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa tinggikah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan biaya investasi maupun titik impasnya.

Dengan mengetahui hal tersebut diatas, berbagai macam tindakan antisipasi dalam rangka untuk memperbaiki dan meningkatkan keuntungan juga dapat dilakukan apabila Anda melakukan tindakan analisa usaha ini.

Proses analisa usaha dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode atau cara. Berikut ini adalah beberapa poin yang harus dapat dihitung dan diketahui secara pasti, yaitu :

ANALISIS LABA / RUGI

Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan atau kerugian dari usaha perikanan yang akan dikelola. Pada dasarnya, sebuah usaha dinyatakan untung apabila nilai penerimaan lebih besar daripada total pengeluaran.
Rumus : Laba / Rugi = Penerimaan – Total Biaya ( Tetap + Variabel )

REVENUE COST RATIO ( R / C )
Dilakukan dengan tujuan untuk melihat keuntungan relatif dalam sebuah usaha perikanan yang diperoleh dalam 1 tahun terhadap biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha perikanam tersebut. Pada dasarnya, sebuah usaha dikatakan layak apabila nilai R / C lebih besar daripada 1 dikarenakan hal ini menggambarkan semakin tinggi nilai R / Cnya maka tingkat keuntungan suatu usaha juga akan semakin tinggi.
Rumus : R / C = Penerimaan : Total Biaya ( Tetap + Variabel )

PAYBACK PERIOD ( PP )
Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan semua biaya investai yang telah dikeluarkan untuk sebuah usaha perikanan.
Rumus : PP = ( Total Investasi x 1 tahun ) : Keuntungan

BREAK EVENT POINT ( BEP )
Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui berapa batas nilai produksi atau besarnya volume produksi sebuah usaha perikanan untuk mencapai titik tidak untung maupun tidak rugi ( impas ). Pada dasarnya, sebuah usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar daripada jumlah unit yang sedang diproduksi saat itu atau BEP harganya lebih kecil daripada harga yang sedang berlaku saat itu.
Rumus : BEP produksi = Total Biaya : Total Produksi, atau BEP harga = Total Biaya : Harga Penjualan

Jika Anda tidak ingin menyesal dikarenakan harus kehilangan banyak uang karena investasi yang salah atau usaha Anda bangkrut ditengah jalan, segeralah lengkapi rak buku Anda dengan buku – buku yang ada kaitannya dengan masalah keuangan.

sumber : Kaskus

Managemen Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen / DO) Dalam Budidaya

Ringkasan:
Konsentrasi oksigen terlarut (DO) di kolam budidaya biasanya diatas saturasi selama siang hari dan kemudian bisa drop pada malam harinya. Manajemen DO di kolam yang airnya statis sulit, sehingga kolam yang tanpa-aerasi biasanya tebaran dan laju pakannya dibatasi. Atau jika menggunakan aerator pun biasanya hanya efektif di malam hari. Dalam budidaya di keramba dan net-pen, konsentrasi DO biasanya tak bisa dimanipulasi.

Meskipun gas atmosfere mengandung sekitar 21% molekul oksigen, namun konsentrasinya di kolam perairan budidaya bisa menurun sehingga tak mendukung
survival dan pertumbuhan yang baik dari species yang dibudidaya. Seperti gas atmosfer lainnya, oksigen mempunyai karakteristik kelarutan dan dissolusinya di air sangat proporsional terhadap persentase komposisi dan tekanan parsialnya dalam atmosfer.

Tekanan oksigen di udara diatas permukaan air mendorong molekul oksigen kedalam air hingga tekanan oksigen dalam air sama dengan tekanan yang ada di udara. Hal ini dikenal sebagai saturasi oksigen. Molekul air yang terkandung dalam air disebut oksigen terlarut (DO).

Konsentrasi dalam Air
Konsentrasi DO, biasanya ditunjukkan sebagai hubungan berat/volume seperti mg/liter yang kelarutannya menurun dengan meningkatnya suhu air dan salinitas (Tabel 1), dan menurunnya tekanan barometer. Persamaan berikut bisa digunakan untuk mengkonversi konsentrasi DO untuk tekanan standard pada saturasi pada tekanan barometrik lain.

D.O. saturasi = D.O dari Tabel 1 x Tekanan Barometrik (mm)
760
Contohnya, andaikata suhu air di kolam air tawar adalah 200C dan tekanan barometrik adalah 710 mm. Konsentrasi DO pada saturasi adalah 8,48 mg/l – sekitar 0,6 mg/l kurangnya dari tekanan 760 mm.
Perubahan tekanan barometrik harian relatif kecil dan hanya berpengaruh 0,1 atau 0,2 mg/l terhadap konsentrasi DO. Perubahan tekanan barometrik yang sangat besar terjadi dengan perubahan elevasi. Kelarutan DO pada suhu 200C di air tawar adalah 9,08 mg/l pada level laut, tetapi hanya 7,19 mg/l pada ketinggian 2000 m, dimana tekanan rata-rata 608 mm.

Tabel 1. Kelarutan oksigen (mg/l) sebagai suatu fungsi suhu dan salinitas pada kelembaban udara tekanan barometer 760 mm. Dari Benson and Krause 1984

Konsentrasi saturasi DO meningkat dengan meningkatnya kedalaman air karena tekanan hidrostatis bertambah terhadap gerakan tekanan barometrik di air permukaan.

Variasi Konsentrasi
Penyebab utama variasi DO di perairan umum adalah fotosintesa oleh tumbuhan akuatik dan respirasi oleh seluruh organisme akuatik. Proses-proses ini mengakibatkan konsentrasi DO berubah lebih cepat dibandingkan difusi oksigen antara udara dan air yang dapat mempertahankan suatu kondisi yang jenuh. Biasanya, air dalam kolam budidaya mempunyai konsentrasi DO diatas saturasi pada waktu siang hari yang kemudian turun dibawah saturasi pada waktu malam.
Molekul oksigen berdifusi dari air ke udara jika level DO lewat jenuh dan dari udara ke air jika konsentrasinya kurang dari saturasinya. Perbedaan konsentrasi DO dan saturasinya merupakan deficit oksigen. Deficit yang lebih besar tsb merupakan kecenderungan oksigen untuk bertukar melewati permukaan air. Namun , turbulensi permukaan air karena angin atau pengaerasian akan mengakibatkan pertukaran oksigen yang lebih cepat.
Jumlah DO dalam air kadang-kadang ditunjukkan sebagai persen saturasi menurut persamaan berikut.

Saturasi (%) = Konsentrasi DO yang terukur (mg/l)
Konsentrasi DO pada saturasi (mg/l)

Pengaruh terhadap Species Budidaya
Di kolam, air permukaan seringkali kurang dari 50% saturasinya dengan DO pada waktu subuh dan diatas 200% saturasinya pada siang-sore hari. Supersaturasi DO jarang berbahaya terhadap ikan atau udang. Namun demikian, supersaturasi air dengan udara bisa menjadi masalah utama pada ikan trout atau hatchery lain yang mengakibatkan trauma gas bubble.

Tabel 2. Pengaruh konsentrasi DO di kolam ikan tropis
249
Pengaruh konsentrasi DO terhadap species budidaya yang biasa dilaporkan adalah mengenai basis konsentrasi DO untuk range suhu optimal species yang dipertimbangkan (Tabel 2). Dalam kenyataannya, hewan akuatik lebih bisa merespon tekanan oksigen dalam air daripada konsentrasi DO.

Manajemen DO
Manajemen DO dalam kolam dengan air statis sangat sulit, karena plankton, benthos, dan organisme lain menggunakan DO lebih banyak daripada yang digunakan oleh species budidaya. Petambak tradisional/tanpa kincir biasanya membatasi tebaran dan pakannya yang terbukti aman sebelumnya. Di tambak ikan lele, misalnya, input pakan untuk kolam tanpa kincir dibatasi hingga 30-40 kg/ha/hari.
Petambak yang bijaksana mengukur konsentrasi DO pada malam hari dan menambahkan pengaerasian emergensi dengan tenaga traktor atau aerator emergensi jika diperlukan. Aerasi untuk kolam ikan lele dengan aerator elektrik mampu menopang input pakan harian diatas 100 kg/ha dan bahkan lebih hingga produksi 4x lipat dari produksi yang mungkin dicapai di kolam tanpa-aerasi.
Jika aerator dijalankan di siang hari, aerasi tsb meningkatkan lepasnya oksigen ke udara jika air kolam tsb supersaturasi dengan DO. Aerator juga paling efektif dalam mentransfer oksigen ke air pada saat malam hari. Di kolam, species budidaya harus berkompetisi dengan organisme lain untuk DO tambahan tsb. Studi kolam lele menyatakan bahwa hanya 15 – 25% dari DO yang ditimbulkan oleh aerator yang digunakan untuk species budidaya.

Flow-Through, Sistem Keramba
Dalam sistem budidaya flow-through, arus air yang deras membatasi pertumbuhan plankton dan membuang limbah langsung. Hampir semua DO yang ada dalam air ‘mengalir’ untuk ikan. Tebaran dan laju pemberian pakan di 'raceway' trout harus ditentukan sehingga konsentrasi DO tak turun dibawah 5 mg/l dan membuat ikan stress.
Andaikata air mengandung 10 mg/l DO masuk ke suatu 'raceway' dengan laju 10 m3/menit. Suplai air tersedia DO 5 mg/l atau 72 kg DO/hari (5gram/ m3 x 10 m3/menit x 1.440 menit/hari x 10-3). Ini biasanya memungkinkan untuk mengaplikasikan 5 kg pakan untuk tiap kilogram DO, sehingga 360 kg pakan dapat diaplikasikan setiap hari. Biomass ikan butuh menggunakan seluruh DO yang tersedia pada feeding rate harian 3% dari berat badan akan menjadi 12.000 kg (360 kg pakan/hari : 0,03).
Cara menghitung kalkulasi diatas dapat terangkum dalam persamaan berikut untuk menghitung carrying capacity sistem flow-through.

Carrying capacity (kg) = Q (DO1 – 5) (7,2)
Prosentase BWD/100

Dimana Q = inflow (m3/menit), DO1 = DO dalam inflow (mg/l atau g/m3)
BWD = body weight/day (berat badan/hari)

Aerasi juga dapat digunakan untuk meningkatkan carrying capacity dalam system flow-through. Namun, di air deras hampir semua DO yang disuplai oleh aerasi tersedia untuk ikan, karena disitu hanya sedikit organisme lain yang menggunakannya.
Di budidaya keramba dan net pen, atau budidaya bivalve shellfish, konsentrasi DO di air ditimbulkan dari kondisi alamiahnya dan biasanya tak terpengaruhi oleh manajemen. Lokasi untuk proyek budidaya semacam itu harus bisa memberikan kualitas air dan sirkulasi air yang baik. Banyak pembudidaya cage culture/budidaya keramba mendapatkan pengalaman terkait penurunan DO yang sangat mengkhawatirkan jika terjadi destratifikasi suhu di danau eutrofik.

*merupakan terjemahan dari “Dissolved Oxygen Management in Aquaculture” by Claude Boyd in Global Aquaculture Advocate Jan/Febr 2008

Oksigen Terlarut / Dissolved Oxygen (DO) dalam Budidaya Udang dan Lobster Air Tawar

Dalam budidaya intensif, Oksigen Terlarut / Dissolved Oxygen atau biasa di singkat dengan  DO merupakan factor pembatas pertama, yang selanjutnya diikuti oleh ammonia-nitrogen sebagai factor pembatas kedua. Oleh karena itu, petambak intensif sudah selayaknya memonitor rutin konsentrasi DO dan mengetahui factor-factor yang mempengaruhi level DO didalam kolam budidaya. Udang dan lobster air tawar biasanya lebih sensitive terhadap level DO yang rendah dan dasar kolam yang kotor dibandingkan ikan. Mempertahankan level oksigen selalu tinggi (> 4 ppm) sangat kritikal di kolam intensif dengan kepadatan yang tinggi.

Oksigen diperlukan udang dan lobster air tawar untuk respirasi dan proses fisiologis yang mengoksidasi karbohidrat dan melepaskan energy untuk membongkar nutrient dari pakan. Oleh karena itu jika suplai oksigen kurang, maka kemampuan udang dan lobster air tawar untuk membongkar pakan juga terbatas sehingga berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan konversi pakan. Konsentrasi DO yang rendah merupakan penyebab utama dari stress, penurunan nafsu makan, pertumbuhan lambat, rentan penyakit dan akhirnya terjadi mortalitas dalam budidaya.

234 Menurut Boyd di artikel diatas, yang harus menjadi perhatian kita adalah level DO minimum harian. Level DO bisa saja tinggi selama 24 jam, namun species budidaya tampaknya lebih dipengaruhi terutama level DO rendah pada malam hari hingga menjelang subuh. Boyd dalam penelitian tsb menunjukkan bahwa SR, produksi dan FCR lebih baik di kolam lele dan udang yang konsentrasi DO harian minimumnya lebih tinggi, tak pernah menurun hingga dibawah 3,5 mg/l. Overfeeding karena mortalitas yang tinggi yang tak diketahui bisa menyebabkan DO drop dan FCR yang lebih tinggi. Oleh karena itu sangat penting untuk menyesuaikan feeding rate dengan nafsu makan dan mortalitas.

235 Boyd mengilustrasikan ‘nasib’ pakan yang diaplikasikan ke system budidaya. Jika terjadi overfeeding, maka sebagian besar dari pakan merupakan pakan yang tak termakan. Bagian ini, disamping feces akan didekomposisi oleh bakteri yang mengkonsumsi banyak oksigen dan menghasilkan ammonia. Sementara pakan yang termakan oleh udang digunakan untuk respirasi, diekskresikan sebagai ammonia & metabolit lain dan juga dikonversi ke biomass udang dan lobster air tawar . DO di air yang digunakan untuk respirasi, dekomposisi microbial terhadap sisa pakan dan feces, oksidasi ammonia oleh bakteri nitrifikasi mencerminkan feed oxygen demand. Feed oxygen demand bervariasi sesuai dengan FCE (feed conversion efficiency), namun 1.25 kg O2/kg pakan dipandang sebagai ukuran yang umum digunakan. Peningkatan FCE dari 0.417 menjadi 0.625 menurunkan FCR dari 2.4 menjadi 1.6 dan menurunkan Feed oxygen demand sebesar 1.18 kg O2/kg udang (37.8% penurunannya). Dengan penurunan tsb akan memperbaiki kualitas air dan menurunkan oxygen demand dari limbah yang terbuang. Penurunan 0.8 kg pakan untuk memproduksi 1 kg udang pada penurunan FCR 2.4 menjadi 1.6 merupakan suatu keuntungan yang sangat ekonomis. Oleh karena prioritasnya adalah penggunaan pakan berkualitas tinggi, feeding program dan feeding rate yang tepat untuk meningkatkan efisiensi pakan dan manajemen kualitas air yang baik sehingga bisa menurunkan FCR.

Kelarutan oksigen dalam air adalah suatu fungsi suhu, salinitas dan ketinggian air laut. Suhu, salinitas dan ketinggian dari laut meningkat, maka kelarutan oksigen menurun.
Ketika perairan dengan saturasi DO 100%, laju difusi oksigen dari air ke udara seimbang dengan laju difusi oksigen dari udara ke air.

Dua factor biologis yang mempengaruhi oksigen terlarut di air budidaya adalah respirasi dan fotosintesa yang merupakan dua peristiwa yang berlawanan terkait oksigen terlarut. Laju konsumsi oksigen karena respirasi bergantung dari suhu air, total biomass hewan, tumbuhan air dan bakteri aerobic dalam system. Akumulasi limbah dalam system akan meningkatkan biomass bakteri heterotrof yang menuntut oksigen yang besar. Oleh karena itu perlu mendapat perhatian yang serius untuk menghindari deplesi oksigen dalam system.

Siang hari laju produksi oksigen karena proses fotosintesa biasanya melebihi laju konsumsi oksigen akibat respirasi fitoplankton. Namun dimalam hari ketika tak ada aktifitas fotosintesa, oksigen terlarut akan menurun karena proses respirasi semua organism hidup yang hidup dalam system tsb. Dalam system dengan bloom plankton yang tinggi, konsentrasi oksigen sangat berfluktuasi, dan sering terjadi deplesi oksigen di malam hingga menjelang subuh, terutama setelah cuaca panas dan mendung. Jika plankton mati, bakteri yang menguraikan sel alga yang mati akan menyebabkan konsumsi oksigen yang tinggi. Masalah ini merupakan masalah yang serius dalam budidaya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan alga yang berlebihan dalam system budidaya.

Sebagian besar masalah DO dapat dihindari dengan aerasi yang cukup. Kebutuhan aerasi sebaiknya dihitung berdasarkan perkiraan biomass udang maksimumnya (yang juga berkaitan dengan jumlah input pakan ke dalam system), dan perlu diingat bahwa oksigen tidak hanya dikonsumsi oleh udang, namun justru proporsi yang lebih banyak karena aktifitas bakteri autotrof dan heterotrof dan alga yang hidup di system budidaya. Dalam kasus-kasus tertentu dimana laju beban di system budidaya berlebih (> 5 kg/m3) biasanya sangat sulit untuk mempertahankan konsentrasi DO diatas 5 mg/l hanya dengan menggunakan aerator, maka injeksi oksigen murni bisa dipertimbangkan.

Toba Lake / Danau Toba : Toba Lake Crayfish / Lobster Danau Toba

Toba Lake / Danau Toba

Heboh Soal Lobster di Danau Toba, yg jadi bertanyaan, apakah di Danau Toba terdapat Habitat Asli Lobster Air Tawar, tentu saja tidak, Lobster Air Tawar yang terdapat di Danau Toba merupakan Ulah dari Oknum Inverstor Korea Selatan yang dengan sengaja membuang bibit-bibit lobster ke dalam perairan Danau Toba
setelah izin peternakan Lobster di Danau Toba tidak di keluarkan oleh pemda, berikut kutipannya dari Harian Seputar Indonesia : 


SAMOSIR (SINDO) – Tidak banyak yang tahu,udang lobster sudah berkembang di Danau Toba, khususnya di kawasan Ambarita, Kabupaten Samosir. Saat ini, nelayan setempat telah menuai rezeki dari udang besar ini.

Salah seorang nelayan di Ambarita, S Sitanggang, 45,menyatakan, para nelayan sudah sering mendapatkan tangkapan lobster di Danau Toba sejak beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, nelayan tidak pernah tahu ada udang besar yang hidup di dana ini. ”Kamibarutahusetelahsering mendapatkan tangkapan lobster beberapa bulan ini.Harga jualnya jugalebihlumayanjikadibandingkan dengan ikan mujair,”tuturnya kepada SINDOkemarin. Sementara itu,salah seorang penjual ikan di Pelabuhan Tomok- Samosir,Boru Sirait menyatakan, harga udang lobster dijual Rp30.000 per ekor untuk ukuran besar.

Sementara itu, lobster ukuran sedang antara Rp20.000– 25.000 per ekor. Berdasarkan informasi yang diperoleh SINDO, keberadaan udang lobster di Danau Toba, khususnya di kawasan Ambarita, diduga berasal dari bibit yang dilepas ke danau ini oleh investor asal Korea Selatan (Korsel). Sebelumnya, investor itu dikabarkan sempat berencana mengembangkan lobster di Ambarita,tetapi batal karena terganjal pengurusan izin dari pemerintah daerah (pemda). “Izin pengembangbiakan udang lobster tidak diberikan pemda karena merupakan jenis hewan predator yang memakan apa saja.

Dikhawatirkan,lobster akan memakan telur-telur ikan mas dan mujair di Danau Toba,” papar Gultom, salah seorang pengusaha yang sebelumnya juga berminat mengembangkan budi daya lobster di Samosir. (mahadi sitanggang)